Feeds RSS

Kamis, 23 April 2015

Cara standarisasi NaOH 1N



Cara standarisasi NaOH 1N

Volumetri atau tirimetri adalah suatu cara analisis kuantitatif dari reaksi kimia. Pada analisis ini zat yang akan ditentukan kadarnya, direaksikan dengan zat lain yang telah diketahui konsentrasinya, sampai tercapai suatu titik ekuivalen sehingga kepekatan (konsentrasi) zat yang kita cari dapat dihitung .
Untuk analisis titrimetri atau volumetri lebih mudah kalau kita memakai sistem ekivalen (larutan normal) sebab pada titik akhir titrasi jumlah ekivalen dari zat yang dititrasi = jumlah ekivalen zat penitrasi. Berat ekivalen suatu zat sangat sukar dibuat definisinya, tergantung dari macam reaksinya. Pada titrasi asam basa, titik akhir titrasi ditentukan oleh indikator. Indikator asam basa adalah asam atau basa organik yang mempunyai satu warna jika konsentrasi hidrogen lebih tinggi daripada sutau harga tertentu dan suatu warna lain jika konsentrasi itu lebih rendah.
Tabel 1.1 Indikator untuk asam dan basa
Nama
Jangka pH dalam mana terjadi perubahan warna
Warna asam
Warna basa
Kuning metil
2 – 3
Merah
Kuning
Dinitrofenol
2,4 – 4,0
Tak berwarna
Kuning
Jingga metil
3 – 4,5
Merah
Kuning
Merah metil
4,4 – 6,6
Merah
Kuning
Lakmus
6 -8
Merah
Biru
Fenophtalein
8 – 10
Tak berwarna
Merah
Timolftalein
10 -12
Kuning
Ungu
Trinitrobenzena
12 -13
Tak berwarna
jingga
Titrasi asam basa yaitu sebagai berikut:
1. Titrasi asam kuat dengan basa kuat
Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat.
Misal : HCl + NaOH →NaCl + H2O
2. Titrasi asam lemah dan basa kuat
Pada akhir titrasi terbentuk garam yang berasal dari asam lemah dan basa kuat.
Misal : Asam asetat dengan NaOH
CH3COOH + NaOH →CH3COONa + H2O
3. Titrasi basa lemah dan asam kuat
Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari basa lemah dan asam kuat.
Misal : NH4OH dan HCl
NH4OH + HCl →NH4Cl + H2O
4. Titrasi asam lemah dan basa lemah
Pada akhir titrasi akan terbentuk garam yang berasal dari asam lemah dan basa lemah. Misal : Asam asetat dan NH4OH
CH3COOH + NH4OH→ CH3COONH4 + H2O
pH larutan tergantung dari harga Ka dan Kb
1.        Bila Ka > Kb larutan bersifat asam
2.        Bila Kb < Ka larutan bersifat basa
Pada analisis volumetri diperlukan larutan standar. Proses penentuan konsentrasi larutan satandar disebut menstandarkan atau membakukan. Larutan standar adalah larutan yang diketahui konsentrasinya, yang akan digunakan pada analisis volumetri.
Ada dua cara menstandarkan larutan yaitu:
1. Pembuatan langsung larutan dengan melarutkan suatu zat murni dengan berat tertentu, kemudian diencerkan sampai memperoleh volume tertentu secara tepat. Larutan ini disebut larutan standar primer, sedangkan zat yang kita gunakan disebut standar primer.
2. Larutan yang konsentrasinya tidak dapat diketahui dengan cara menimbang zat kemudian melarutkannya untuk memperoleh volum tertentu, tetapi dapat distandartkan dengan larutan standar primer, disebut larutan standar skunder.
Zat yang dapat digunakan untuk larutan standar primer, harus memenuhi persyaratan dibawah ini :
1. Mudah diperoleh dalam bentuk murni ataupun dalam keadaan yang diketahui kemurniannya. Pengotoran tidak melebihi 0,01 sampai 0,02 %
2. Harus stabil
3. Zat ini mudah dikeringkan tidak higrokopis, sehingga tidak menyerap uap air, tidak meyerap CO2 pada waktu penimbangan
Suatu reaksi dapat digunakan sebagai dasar analisis tirimetri apabila memenuhi persyaratan berikut :
1. Reaksi harus berlangsung cepat, sehingga titrasi dapat dilakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama.
2. Reaksi harus sederhana dan diketahui dengan pasti, sehingga didapat kesetaraan yang pasti dari reaktan.
3. Reaksi harus berlangsung secara sempurna.
4. Mempunyai massa ekuivalen yang besar
Larutan standar biasanya kita teteskan dari suatu buret ke dalam suatu erlenmeyer yang mengandung zat yang akan ditentukan kadarnya sampai reaksi selesai. Selesainya suatu reaksi dapat dilihat karena terjadi perubahan warna Perubahan ini dapat dihasilkan oleh larutan standarnya sendiri atau karena penambahan suatu zat yang disebut indikator. Titik di mana terjadinya perubahan warna indikator ini disebut titik akhir titrasi. Secara ideal titik akhir titrasi seharusnya sama dengan titik akhir teoritis (titik ekuivalen). Dalam prakteknya selalu terjadi sedikit perbedaan yang disebut kesalahan titrasi.
Dalam standarisasi larutan NaOH dilakukan dengan percobaan hal yang pertama dilakukan adalah merancanng percobaan terssebut yang diawali dengan merancang prosedur percobaan yaitu sebagai berikut:
Alat
Alat yang dibutuhkan untuk standarisasi larutan NaOH antara lain:
1.      Labu ukur
2.      Buret
3.      Statif dan klem
4.      Erlenmeyer
5.      Gelas beker
6.      Pipet tetes
7.      Neraca analitik
8.      Kaca arloji
9.      Batang pengaduk
Bahan
Bahan-bahan yang digunakan antara lain:
1.      Asam Oksalat
2.      NaOH
3.      Phenolptalein
4.      Aquades
Prosedur Percobaan
Adapun prosedur percobaan ini yaitu:
1.      Menimbang sebanyak 2,52 gram asam oksalat dihidrat (H2C2O4.2H2O) dengan menggunakan gelas arolji dan neraca analitik.
2.      Memindahkanasam oksalat dari kaca arloji ke dalam gelas beker 100 mL,
3.      Menambahkan 25-30 mL akuades
4.      Mengaduknya hingga larut
5.      Kaca arloji dibilas dengan sedikit akuades, dan memasukkan air bilasan ke dalam gelas beker yang berisi larutan asam oksalat tersebut
6.      Larutan asam oksalat dipindahkan ke dalam labu ukur 100 mL
7.      Membilas gelas beker dengan sedikit akuades, dan air bilasan tersebut dimasukkan ke dalam labu ukur
8.      Menambahkan akuades ke dalam labu ukur hingga tepat tanda batas dan mengocoknya hingga homogen
9.      Mencuci buret 50mL yang akan digunakan dengan menggunakan akuades kemuadian mengeringkannya. Setelah selesai dicuci, membilas buret yang sudah bersih tersebut dengan sedikitlarutan asam oksalat, lalu mengisi buret dengan asam oksalat.
10.  Menimbang 0,4 gram NaOH dengan kaca arloji
11.  Memindahkannya dari kaca arloji ke dalam gelas beker 100 Ml
12.  Menambahkan 25-30 mL akuades, kemuadian mengaduknya hingga larut
13.  Kaca arloji dibilas dengan sedikit akuades, dan memasukkan air bilasan ke dalam gelas beker yang berisi larutan NaOH tersebut
14.  Larutan NaOH dipindahkan ke dalam labu ukur 100 mL, kemudiam membilas gelas beker dengan sedikit akuades, dan air bilasan tersebut dimasukkan ke dalam labu ukur
15.  Menambahkan akuades ke dalam labu ukur hingga tepat tanda batas dan mengocoknya hingga homogen.
16.  Memasukkan 10 mL larutan NaOH yang akan distandarisasi kedalam erlenmeyer
17.  Menambahkan 2-3 tetes indikator fenophtalein
18.  Menitrasi Larutan NaOH dengan larutan asam oksalat dari buret. Dan jika telah terjadi perubahan warna yang konstan, maka titrasi dihentikan kemudian mencatat volume asam oksalat yang digunakan untuk titrasi. Dan selanjutnya, melakukan  titrasi kembali sebanyak dua kali dan menghitung rata-rata volume asam oksalat yang digunakan dari tiga kali titrasi yang telah dilakukan.
Jika dari percobaan standarisasi NaOH di atas diperoleh data hasil pengamatan sebagi berikut:
Titrasi pertama                             Titrasi kedua
V NaOH        = 10 mL                                 V NaOH        = 10 mL
V Asam oksalat = 25 mL                                 V asam oksalat = 24 mL

Titrasi ketiga
V NaOH        = 10 mL
V asam oksalat = 26 mL

Volume asam oksalat rata-rata yang digunakan: 25 mL

Perhitungan:
Konsentrasi Larutan Asam Oksalat
Diketahui  :    Massa asam oksalat                                       =  2,52 gr
                            Mr asam oksalat                                       =  126 gr
                            Volume larutan asam oksalat = 100 mL  =  0,1 L
 Molaritas asam oksalat = (massa asam oksalat/ Mr  asamoksalat)
Volume larutan asam oksalat
 =  (2,52 g/126 g/mol)
0,1 L
 =   0,2 mol/L
 Ditanya   :  Normalitas asam oksalat = .........?    

   Jawab     :
                 Normalitas asam oksalat      =  n. M
                                                              =  (2 ek / mol) x (0,2 mol/L)
                                                              = 0,4 ek/L
Penentuan Konsentrasi NaOH
Diketahui   :  Volume NaOH saat titrasi                          =  10 mL
    Volume rata-rata asam oksalat saat titrasi =   25 mL
     Normalitas asam oksalat                            =   0,4 ek/L
     Pada saat titik ekuivalen  
           (N.V)asam     = (N.V)basa
                (N.V)oksalat   = (N.V)NaOH
           0,4 ek /L. Voksalat   = NNaOH. 10 mL
NNaOH    =  0,4 ek/L. 25 mL
                         10 mL
            = 1N

0 komentar:

Posting Komentar